JEJAK

 

“Menunduk dan merendah dalam hidupmu”, pesan mamah pada seorang lelaki yang baru menyelesaikan pendidikan sarjananya. Ilmu yang dimiliki darma baktikan untuk sebanyak-banyaknya memberikan kebermanfaatan bagi kemanusiaan. Jangan disembunyikan, tapi terus tebarkan, niscaya kebaikan akan datang pada masanya. Setiap masa ada jejak dan setiap jejak ada pelakunya. Lelaki berusia 22 tahun hanya bisa menganggukkan kepala dan menjawab “InsyaAllah mah”, ucapnya tegas.

Anak ke-7 dari 11 bersaudara yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang bisa disebut serba kekurangan. Teringat suatu segmen peristiwa yang menyayat hatinya yang masih polos. Kedua orangtuanya menjadi bahan gunjingan tetangganya yang bergelimangan materi serta status yang mentereng. “Budak Ceu Milah mah moal aya nu jadi jelema“, ucapnya sinis. Mendengar kalimat tersebut seakan di hunjam tajamnya pisau sembelihan. Sakit tidak berdarah, tapi memacu bibir ini untuk membalasnya, tapi tidak berdaya.

Tidak berselang lama, mamah dan bapak, mengumpulkan anak-anaknya. Tanpa berlama-lama kami bersegera berkumpul. “Ujang, Neng tong dendam tong kabawa amarah. Buktikeun ku maraneh, bisa sukses jadi jelema, sakola luhur tur babakti kasasama“, ucapnya lirih sambil menahan tangis. Bapak hanya bisa mendukung dan mendo’akan. Ingat, “Ulah sombong lamun geus sukses, tong adigung adiguna”. Pintanya, sambil meneteskan air mata. Kami semua hanya terdiam dan berjanji dalam hati untuk membuktikan, kami bisa menjawab cibiran tetangga atas kehendak-Nya. (KJ)

Related Posts

No Content Available
Next Post

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.