UJIAN SEKOLAH RASA AKM, MENGAPA TIDAK?

 

Oleh Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd.

Guru IPS SMPN 3 Limbangan, Garut- Ketua PW FKGIPS Jabar

Memasuki bulan April seperti biasa sekolah mulai disibukan dengan persiapan dan pelaksanaan ujian tahap akhir untuk peserta didik tingkat akhir. Siswa kelas 6, 9 dan 12 mulai memasuki babak akhir kegiatan pembelajaran. Biasanya salah satu tahapan yang harus dilalui adalah Ujian Sekolah (US). Baik US praktek maupun tulis. Dulu biasanya US ini satu paket dengan Ujian Nasional (UN), hanya mulai tahun ini UN ditiadakan. Dasar pijakannya adalah Surat Edaran (SE) Mendikbud Nomor 1 Tahun 2021 tentang Peniadaan Ujian Nasional dan Ujian Kesetaraan serta pelaksanaan Ujian Sekolah dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19 yang ditandatangani Mendikbud Nadiem pada 1 Februari 2021.

Dengan adanya SE Mendikbud tersebut maka UN dan ujian kesetaraan tidak lagi menjadi syarat kelulusan atau seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tahun ini peserta didik dinyatakan lulus dari satuan/program pendidikan setelah menyelesaikan program pembelajaran di masa pandemi COVID-19 yang dibuktikan dengan rapor tiap semester, memperoleh nilai sikap atau perilaku minimal baik, dan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

Pelaksanaan ujian di tingkat satuan pendidikan bisa dilaksanakan dalam empat bentuk. Bentuk ujian tersebut meliputi: (1) portofolio berupa evaluasi atas nilai rapor, nilai sikap/perilaku, dan prestasi yang diperoleh sebelumnya (penghargaan, hasil perlombaan, dan sebagainya), (2) penugasan, (3) tes secara luring atau daring, dan/atau, (4) bentuk kegiatan penilaian lain yang ditetapkan oleh satuan pendidikan.

Terkait dengan tes luring atau daring yang dilaksanakan di satuan pendidikan, kita sebut saja istilahnya “ujian sekolah”, ke depan perlu dibuat sebuah terobosan baru. Seiring dengan akan diberlakukannya AKM atau Asesmen Kompetensi Minimum, soal model AKM kiranya perlu juga disisipkan dalam US.

AKM sendiri merupakan model baru asesmen di Indonesia. Rencananya AKM akan dilaksanakan mulai 2021 ini. Rencana awal akan dilaksanakan pada sekitar Maret 2021, tetapi kemudian diundur menjadi September sampai dengan Oktober 2021. Menurut Mendikbud dasar pengunduran jadwal pelaksanaan AKM ini salah satunya jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat. (Kompas, 20/1/2021).

Dari sisi konstruksi soal hadirnya soal model AKM menjadi sesuatu yang menarik. Pertama, soal-soal dalam AKM merujuk pada standar PISA dengan mengedepankan pengukuran atas keterampilan dasar literasi dan numerasi, yaitu kemampuan bernalar tentang teks dan angka. Kedua, soal AKM terkait erat dengan permasalahan yang ada dalam kehidupan nyata dan bersifat kekinian. Ketiga, komponen soal dalam AKM yang berupa keberadaan stimulus, bentuk soal, konteks soal dan proses kognisi yang diinginkan membuat soal model AKM menjadi berbeda dengan soal yang biasa.

Terkait dengan US rasa AKM tentunya bukan mengganti US dengan AKM. Kedua asesmen ini tentunya dua hal yang berbeda. US mengukur sejauh mana ketercapaian kurikulum dan daya serap peserta didik, sedangkan AKM mengukur mutu satuan pendidikan. US rasa AKM terkait komponen dan bentuk soal yang diteskan dalam AKM kiranya bisa diadopsi untuk soal US.

Sebagaimana komponen soal dalam model AKM, soal US harus mengandung stimulus yang tidak saja menarik, tetapi juga harus informatif dan kekinian. Dengan aneka stimulus yang tersaji berupa: gambar, infografis, tabel, teks informasi dan teks sastra diharapkan akan semakin memicu daya kritis, kemampuan pemecahan masalah dan transfer konsep dalam diri peserta didik.

Kemudian bentuk soal US juga mengacu pada AKM yang lebih beragam dan menantang. Tidak hanya berupa pilihan ganda biasa dan uraian, tetapi juga bisa berupa soal menjodohkan, pilihan ganda kompleks, jawaban singkat, setuju-tidak setuju, benar-salah, fakta-opini dan bentuk soal gabungan yang mengedepankan alasan. Bentuk soal yang beragam akan semakin menarik dan mengasah kemampuan peserta didik.

Apakah soal US dengan cita rasa AKM ini akan memberatkan peserta didik dalam menyelesaikannya? Jawabannya tentu relatif. Peserta didik akan kesulitan dalam mengerjakannya apabila tidak dibiasakan oleh gurunya dalam proses pembelajaran dan penilaian sehari-hari. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa tentunya akan relatif lebih mudah. Bukankah selain AKM nasional disarankan ada AKM berbasis mata pelajaran? AKM berbasis mapel ini sebagai sebuah upaya perbaikan mutu pembelajaran yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran dan penilaian sehari-hari. Di sinilah kata kuncinya. Guru harus terbiasa mengembangkan model AKM dalam mata pelajaran yang diampunya. Hal lain tentunya termasuk mengembangkan literasi dan numerasi dalam keseharian.

Pengintegrasian soal model AKM dalam US harus berani dicoba. Setidaknya mulai 2022 US rasa AKM ini harus bisa diterapkan. Apalagi modelnya tidak jauh dari model HOTS yang sudah lama dikenalkan. Dengan digulirkannya AKM rasa mapel otomatis akan ada tantangan bagi guru untuk melakukan perbaikan mutu pembelajaran yang ujungnya akan bermuara pada perbaikan mutu pendidikan. Semoga!

 

 

Penulis:

Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd

Guru IPS SMPN 3 Limbangan, Garut dan Ketua PW FKGIPS Jawa Barat

 

 

Related Posts

Next Post

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.